Bagaimana Kaitan Antara Arsitektur, Iklim dan Cuaca?

Dengan kondisi iklim dan cuaca yang spesifik di setiap area bumi, maka setiap site pun memiliki potensi dan kendala yang spesifik terkait iklim dan cuaca masing-masing, termasuk iklim mikro. Dalam proses desain, analisis site mutlak dilakukan agar dapat disimpulkan potensi site yang dapat dioptimalkan, sebaliknya justru kendala site yang harus diantisipasi. Sehingga setiap solusi desain bangunan dan lingkungannya akan spesifik dan dapat memberi kenyamanan, terutama dari sisi termal bagi penggunanya.

Sebagai contoh, berikut perbedaan iklim dan cuaca antara area tropis basah/lembap seperti di Indonesia dengan tropis kering (arid) seperti di Meksiko dan Nigeria.

Ciri khas daerah iklim tropis basah ialah terdapat hutan hujan tropis serta suhu udara dan kelembapan udara yang cukup tinggi. Berdasarkan pengukuran rata-rata diperoleh data sebagai berikut:

  1. Suhu udara maksimum rata-rata 27C-32C
  2. Suhu udara minimum rata-rata 20C-23C
  3. Kelembapan udara rata-rata 75%-80%
  4. Curah hujan 1.000-5.000 mm per tahun
  5. Tutupan awan di langit 60%-90%

Dengan adanya badan air seperti sungai, danau dan laut, juga tanah yang mengandung air maka dengan energi dan radiasi panas matahari terbentuklah awan hasil penguapan, dengan hujan yang terjadi hampir sepanjang tahun dan umumnya curahnya cukup tinggi. Awan pada langit ini dapat berfungsi sebagai filter radiasi panas matahari ke bumi saat siang hari, dan pemantul reradiasi panas matahari saat malam hari ketika panas dari bumi sedang dilepas ke angkasa. Maka pada daerah tropis basah tidak terjadi perbedaan suhu yang ekstrim antara siang dan malam hari.

Pada daerah tropis kering (arid), suhu udara cukup tinggi, tetapi kelembapan udara sangat rendah. Hal ini disebabkan sedikitnya penguapan air karena kondisi tanah yang kering bahkan dapat berupa pasir, juga sulit dijumpai badan air berupa sungai dan danau yang cukup untuk pembentukan awan.

Saat siang hari suhu udara dan bumi menjadi panas tanpa filter awan dan sebaliknya saat reradiasi malam hari panas dari bumi lebih cepat lepas ke angkasa. Maka terjadilah perbedaan suhu yang ekstrim antara siang dan malam hari.

Solusi desain untuk daerah tropis basah agar dapat tercapai kenyamanan termal:

  1. Pengaturan orientasi bangunan/bukaan yang diusahakan menghindari timur dan barat.
  2. Sistem ventilasi yang baik mendukung cross ventilation.
  3. Fasad bangunan yang dilengkapi sun shader / sun filter untuk melindungi bukaan udara/cahaya dari radiasi panas matahari.
  4. Jarak antarmassa bangunan yang tidak rapat agar tetap terjadi sirkulasi udara di site.
  5. Atap miring agar mampu mengalirkan air hujan dengan baik.

Solusi desain untuk daerah tropis kering agar dapat tercapai kenyamanan termal:

  1. Sistem ventilasi yang kecil agar debu dan pasir yang tertiup angina tidak masuk ke dalam bangunan.
  2. Selubung bangunan yang tebal mampu menahan rambatan panas ke dalam ruang saat siang hari, tetapi sebaliknya dengan reradiasi mampu menghangatkan saat malam hari.
  3. Massa bangunan yang rapat agar saling memberi pembayangan.
  4. Bentuk atap datar karena curag hujan minim sepanjang tahun.
  5. Pendinginan secara pasif menggunakan elemen air yang saat menguap akan mengambil kalor dari udara.

 

Sumber: Fisika Bangunan 1 by Nur Laela Latifah, ST. MT.

 

3 thoughts on “Bagaimana Kaitan Antara Arsitektur, Iklim dan Cuaca?

  1. Hello! Someone in my Myspace group shɑred this website with us ѕo I came to look
    it over. I’m definiteⅼy loving the information.
    I’m bοok-marking and will be tweeting this
    to my followers! Wondеrfuⅼ Ƅlog and brilliant style and design.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *