Jenis dan Ketebalan Material Kulit Bangunan

Terkait kenyamanan termal, pemilihan material utama penyusun kulit bangunan ditentukan oleh beberapa faktor sebagai berikut.

  1. Lokasi bangunan terkait zona iklim

Di zona iklim tropis, kondisi panas adalah kendala. Pemilihan material haruss tepat agar dapat memanfaatkan potensi dan mengantisipasi kendala panas tersebut.

  1. Jenis material

Setiap material memiliki spesifikasi tertentu yang menentukan besarnya radiasi panas matahari yang dapat ditransmisikan ke dalam rumah dan sebaliknya, seberapa besar radiasi panas matahari yang hilang.

  1. Ketebalan material

Makin tebal kulit bangunan maka panas cenderung makin sulit menembus kulit bangunan. Panas akan tersimpan dalam material, kemudian direradiasikan saat malam hari.

 

Ada bermacam-macam spesifikasi material terkait panas matahari dan yang paling penting untuk diketahui dalam proses desain rumah adalah sebagai berikut.

  1. Konduktivitas panas
  2. Transmitans panas
  3. Kapasitas panas

 

Secara fisik, spesifikasi terkait panas dari material tersebut dipengaruhi juga oleh warna, tekstur, dan transparansi material. Penjelasannya sebagai berikut :

  1. Makin gelap warna dan makin kasar tekstur permukaan material maka makin besar panas yang diserap untuk ditransmisikan ke dalam rumah.
  2. Makin terang warna dan makin licin tekstur permukaan material maka makin besar panas dapat dipantulkan untuk tak masuk ke dalam rumah.
  3. Makin transparan material maka makin mudah panas ditransmisikan masuk ke dalam rumah.

 

Material transparan akan meneruskan sebagian dari radiasi panas (dan radiasi cahaya) matahari yang diterima untuk masuk ke dalam rumah. Sebagai contoh, kaca tunggal bening setebal 3 mm akan mentransmisikan energi (panas dan cahaya) sebesar 85% – 87% yang diterima. Sebanyak 8% – 9% akan dipantulkan (karena permukaan licin), dan sisanya 5% – 6% diserap untuk dilepas kemudian. Untuk mengurangi besar transmisi ini, kaca dibuat khusus berupa kaca dobel, kaca serap, kaca refleksi, hingga low-e glass.

 

Kearifan penerapan material pada kulit bangunan dapat dipelajari dari arsitektur vernacular. Dengan potensi material alam yang ada, rumah dibuat tanpa mengabaikan kenyamanan termal.

 

Iklim di Lombok panas dan basah, tetapi pohon berkayu yang besar sulit utk tumbuh (savana). Suku Sasak di sana memanfaatkan potensi tumbuhan yang ada yaitu rumput dan ilalang. Karena tumbuhan cenderung memiliki konduktivitas panas yang rendah maka dengan penerapan rumput dan ilalang tersebut pada atap dan dinding, tak banyak panas yang dihantarkan ke dalam rumah.

 

Di zona iklim tropis kering, tanaman menjadi sulit tumbuh. Potensi material bangunan adalah tanah yang bersifat liat (adobe) yanng dicetak berbentuk bantu tebal untuk disusun menjadi dinding.

 

Adobe ini memiliki kerapatan massa (density) dan kapasitas panas (heat capacity) yang cukup tinggi, sehingga berpotensi sebagai massa termal dengan proses sebagai berikut :

  1. Penyejukan saat siang hari

Tanah liat tidak cepat memanas jika terkena paparan radiasi panas matahari. Dengan dinding kulit bangunan yang tebal, saat siang hari yang sangat panas suhu dalam rumah dapat diusahakan agar mencapai kenyamanan termal.

  1. Penghangatan saat malam hari

Panas yang tersimpan selama terpapar radiasi panas saat siang hari akan dilepas (reradiasi) sehingga suhu dalam rumah tidak terlalu dingin.

 

Sumber: Fisika Bangunan 1 by Nur Laela Latifah, ST. MT.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *