Orientasi Bangunan dan Bukaan

Langkah pertama yang harus diperhatikan dalam perencanaan rumah adalah orientasi bangunan, kemudian orientasi bukaan pada fasad rumah. Berdasarkan fungsinya bukaan ada 2 macam, yaitu bukaan cahaya dan udara. Suatu bukaan cahaya belum tentu dapat berfungsi sebagai bukaan udara, tetapi sebaliknya bukaan udara juga dapat berfungsi sebagai bukaan cahaya.

 

Orientasi bangunan dan bukaan dipertimbangkan terhadap potensi dan kendala yang mempengaruhi kenyamanan termal. Pertimbangan dalam penentuan orientasi bangunan dan bukaan di Indonesia dengan iklim tropis basah yaitu: 

1. Kendala

Arah datangnya radiasi panas matahari yang harus dikontrol penerimaannya bila masuk kedalm ruang. 

2. Potensi

Arah datangnya angin yang diperlukan dengan kecepatan angin yang cukup untuk pergantian udara dalam ruang. 

 

Setiap daerah di bumi memiliki pola lintasan matahari (sunpath) yang spesifik. Bahkan pada suatu lokasi, lintasan itu pun bergeser sepanjang tahun. Sebagai contoh, di Indonesia yang berada di daerah khatulistiwa, matahari terbit di timur dan tenggelam di barat, tetapi lintasannya bergeser paling utara pada tgl 22 Juni n paling selatan tanggal 22 Desember.

 

Akibat pergeseran lintasan tersebut, sudut jatuh sinar matahari pun akan berubah sepanjang waktu. Inilah yang harus dianalisis terkait perencanaan orientasi bangunan dan bukaan cahaya tersebut karena setiap sisi rumah yang berbeda akan menerima efek pemanasan yang berbeda.

 

Orientasi-Bangunan-dan-Bukaan, Azzam-Studio, Jasa-Desain-Rumah, Jasa-Desain-Interior, WA-0822-3262-2229

Gambar di atas adalah contoh desain IBM Plaza hasil desain Ken Yeang di Malaysia yang beriklim tropis basah. Orientasi bangunan dan bukaan cahayanya menghadap utara dan selatan. Sementara sisi timur dan barat bangunan massif digunakan sebagai area servis (core bangunan). Pemanfaatan cahaya alami dapat dioptimalkan saat siang hari dan core berfungsi sebagai buffer / penahan radiasi panas matahari masuk ke dalam ruang. Suhu ruang pun dapat dikontrol agar dapat menunjang kenyamanan termal penggunanya.

 

Angin diperlukan untuk masuk ke dalam rumah dengan arah yang tepat dan kecepatan yang cukup, agar dapat menghasilkan kenyamanan termal. Tetapi pada site terterntu dapat dijumpai arah datangnya angin sama dengan arah datangnya radiasi panas matahari. 

 

Sebagai contoh, di daerah khatulistiwa, bukaan udara yang juga berfungsi sebagai bukaan cahaya ternyata harus menghadap timur dan barat. Bila bukaan udara dialokasikan ke sisi fasad yang lain (contoh: utara dan selatan) maka akan mempersulit perolehan kenyamanan termal karena sisi rumah yang berbeda mengalami efek tiupan yang berbeda. Pada kasus seperti ini, diperlukan kompromi desain, di mana bukaan tetap menghadap arah datangnya angin, tetapi diberi perlindungan yang optimal berupa sun shader atau sun filter. 

 

Berikut contoh yang sesuai kompromi desain pada bangunan Information Computer Sciences (ICS) desain Rebecca L. Binder di California (33  LU) yang beriklim subtropis. Saat musim panas, pada bulan Agustus radiasi panas matahari tinggi dan suhu udara siang hari dapat terukur hingga 39  C.

 

Orientasi-Bangunan-dan-Bukaan 4, Azzam-Studio, Jasa-Desain-Rumah, Jasa-Desain-Interior, WA-0822-3262-2229
ICS tampak dari timur

 

Orientasi-Bangunan-dan-Bukaan 5, Azzam-Studio, Jasa-Desain-Rumah, Jasa-Desain-Interior, WA-0822-3262-2229
ICS tampak dari utara

Orientasi bangunan ICS menghadap timur. Di atas bukaan fasad timur terdapat sun shader berupa sirip dan balkon. Pembayangan pada bukaan ini masih diperbesar dengan deretan kolom berdimensi lebar. Sementara, fasad sisi utara tak mendapat paparan radiasi panas matahari sebesar sisi timur dan barat maka bukaannya dibuat banyak dan boleh tidak dilengkapi dengan sun shader atau sun filter.

 

Sumber: Fisika Bangunan 1 by Nur Laela Latifah, ST. MT.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *