Perencanaan Penerangan Alami (2)

Penerangan alami (daylighting) adalah penggunaan cahaya yang bersumber dari alam untuk penerangan. Sebagai sumber energi cahaya yang utama adalah matahari.

 

Berikut rata-rata penerimaan insensitas radiasi panas matahari di Jakarta yang terukur dari pukul 07.00 / sd 18.00, pada bidang vertikal dengan orientasi berbeda. Jika lintasan matahari ada di di utara maka sisi utara akan menerima insensitas radiasi panas yang lebih tinggi dari sisi timur.

Utara : 130 W/m2

Timur Laut : 113 W/m2

Timur : 112 W/m2

Tenggara : 97 W/m2

Selatan : 97 W/m2

Barat daya : 176 W/m2

Barat : 243 W/m2

Barat Laut : 211 W/m2

 

Untuk memperoleh manfaat optimal dari penerangan alami dan mengantisipasi kendala radiasi panas matahari maka perlu dilakukan pengaturan alukasi ruang dan bukaan cahaya sesuai aktivitas atau fungsi ruang. Berikut contoh alokasi ruang pada rumah tinggal.

  1. Kamar tidur

Penerangan alami ideal untuk kamar tidur ada di pagi hari, maka alokasi bukaan yang ideal berada di sisi tenggara s/d timur laut.

  1. Kamar mandi, gudang

Penerangan alami ideal untuk kamar mandi dan gudang ada di sore hari dengan radiasi panas yang tinggi, maka alokasi bukaan yang ideal berada di sisi barat atau timur.

  1. Ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan

Ruang tamu, ruang keluarga, dan ruang makan adalah ruang dimana aktivitas pengguna cukup tinggi dan dibutuhkan cahaya yang hangat, maka alokasi bukaan yang ideal berada di sisi utara atau selatan.

  1. Dapur, ruang kerja

Dapur dan ruang kerja adalah ruang dimana aktivitas pengguna lebih tinggi daripada di ruang tamu, ruang keluarga maupun ruang makan, sehingga radiasi panas matahari yang didapat harus diminimalisir, maka alokasi bukaan yang ideal berada di sisi utara atau selatan.

 

Perhitungan luas minimal suatu bukaan cahaya pada fasad rumah / bangunan adalah 20% luas dinding (window to wall ratio atau WWR ≥ 1 : 5). Berikut contoh perhitungan luas minimal bukaan cahaya pada kasus sederhana suatu model ruang dengan luas fasad / dinding 9 m2 dan tinggi fasad 3 m. Perhitungan luas minimal bukaan cahaya :

= 20% x 9 m2

= 1,8 m2 (0,6 m x 0,3 m)

 

Terkait pemanfaatan penerangan alami, strategi pengendalian termal yang dapat dilakukan yaitu sebagai berikut.

  1. Shading devices

Sirip penangkal sinar matahari (SPSM), atap balkon, atap lebar, kisi-kisi (louvre), dan blinds menjadi pembayang sinar matahari (shade).

  1. Secondary skin

Kulit atau selubung rumah / bangunan kedua menjadi penyaring (filter) sinar matahari.

  1. Double glass

Kaca ganda menjadi penyaring (filter) sinar matahari.

  1. Absorbing & reflective glass

Mono tinted glass dan mono coated glass menjadi penyaring (filter) sinar matahari.

  1. Low-e glass

Kaca dengan emisivitas rendah sehingga dapat menjadi penyaring (filter) sinar matahari.

 

Sumber: Fisika Bangunan 1 by Nur Laela Latifah, ST. MT.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *